Pemanfataan Hasil Kajian Kritis

M. Hasri dan Eddy Pahar Harahap (2009) menjelaskan bahwa kajian kritis dapat ditinjau dari dua cara, yakni kajian kritis secara teoretis dan kajian kritis terapan. Secara teoretis kajian kritis dapat ditinjau berdasarkan paradigma tertentu dan secara terapan kajian kritis dapat dilakukan untuk tujuan praktis, yakni tujuan pemanfaatan informasi yang ditemukan dalam suatu teks untuk keperluan tertentu.

Kritisisme secara teoretis sudah merupakan satu paradigma tersendiri dalam mengkaji suatu wacana. Paradigma kritisisme dapat diperbandingkan dengan dua paradigma lain dalam meninjau suatu wacana, yaitu paradigma positivisme dan paradigma interpretivisme.

Kajian kritis yang diuraikan di atas lebih mengarah ke kajian kritis yang bersifat teoretis. Kajian itu berfokus kepada bagaimana mengurai suatu wacana dalam hubungannya dengan wacana itu sendiri dan dalam kaitannya dengan lingkungan penciptaan wacana. Penjelasan kajian kritis yang bersifat terapan dijumpai dalam glosarium BBM bermutu.

Dalam glosarium BBM Generik dikemukakan bahwa kajian kritis merupakan suatu kegiatan membaca, menelaah, menganalisis suatu bacaan/artikel untuk memperoleh ide-ide, penjelasan, data-data pendukung yang mendukung pokok pikiran utama, serta memberikan komentar terhadap isi bacaan secara keseluruhan dari sudut pandang kepentingan pengkaji. Berdasarkan pengertian ini dapat dinyatakan bahwa kegiatan utama yang dilakukan dalam kajian kritis adalah pemahaman akan makna yang tertuang dalam suatu teks.

Kata kunci yang dijumpai dalam pengertian kajian kritis di atas adalah:

-membaca,

-menelaah,

-menganalisis,

-ide-ide,

-data pendukung,

-memberi komentar, dan

-sudut pandang kepentingan pengkaji

 

Pemanfaatan hasil kajian kritis tersebut adalah:

A.    Penelaahan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Sebagai Langkah Awal

B.    Kajian Kritis untuk Keperluan Praktis

C.    Pemilahan Pandangan Penggagas

D.    Identifikasi Strategi Penyajian Gagasan

E.    Pemanfaatan Kajian Kritis dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah

GLOSARIUM

Artikel    : tulisan yang memuat suatu gagasan atau suatu topik bersifat semipopuler

Kajian Kritis    : telaah yang dilakukan terhadap suatu teks dengan maksud memahami lebih dalam pada bentuk dan isi teks tersebut

Kajian Kritis Praktis    : telaah yang dilakukan terhadap suatu teks dengan tujuan untuk dimanfaatkan dalam menghasilkan suatu tulisan

Kajian Kritis Teoritis    : telaah yang dilakukan terhadap suatu teks dengan tujuan untuk mengapresia lebih jauh bentuk dan isi

Pengkritis    : Orang yang melakukan pengkajian kritis terhadap suatu teks dalam

PTK    : singkatan dari penelitian tindakan kelas, yaitu suatu jenis penelutian yang didesain untuk memperbaiki pembelajaran di dalam kelas dengan ciri utama pelaksanaan dilakukan lebih dari satu siklus

Telaah Isi    : kajian yang dilakukan untuk menangkap informasi dalam suatu teks

Telaah Bentuk    : Kajian yang dilakukan dengan penekanan pada cara penyajian gagasan.

 

Contoh Kajian Kritis Sederhana

Kajian Kritis Artikel/Opini “Iman, Akhlak Mulia, dan Kesehatan Jesmani”

karya (Svendriyati Asthari, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris nonreguler angkatan 2005)

Tahun 2007.

 

 

PERHATIAN ORANG TUA YANG BERLEBIHAN DAPAT MENJADIKAN

ANAK KURANG PERCAYA DIRI

Oleh : Hamdan

 

Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ sangat berpengaruh terhadap pola pemikiran manusia sehingga bisa mendorong para orang tua dan pendidik untuk bekerjasama dalam membangun kepribadian anak sejak dini. Manajemen waktu sangat perlu dianut oleh orang tua ketika orang tua tidak mampu untuk membagi waktu. Harus ada pembagian yang tepat antara kesenangan pribadi dan memenuhi kebutuhan anak. Kebutuhan anak yang mendasar adalah pencarian jati diri sampai usia emas, yang meliputi perwatakan, bakat dan kepandaian, serta motivasi untuk melanjutkan kehidupan. Kebutuhan yang mendasar jika tidak terpenuhi tentunya akan mendatangkan banyak masalah. Masalah itu akan mempengaruhi keseimbangan EQ dan SQ. ketidak seimbangan IQ akan menjadikan penurunan IQ, setelah itu terjadi hormone stress.

Bertolak dari uraian di atas, dapat kita paparkan simpulan bahwa peran orang tua sangat mendominasi aspek perkembangan anak. Orang tua harus meluangkan kesempatan untuk memotivasi dan memenuhi kebutuhan anak agar dapat membantunya dalam perkembangan IQ, EQ, dan SQ yang seimbang. Kebutuhan yang mendasar jika tidak terpenuhi tentunya akan mendatangkan banyak masalah. Masalah itu akan mempengaruhi keseimbangan EQ dan SQ. ketidak seimbangan IQ akan menjadikan penurunan IQ, setelah itu terjadi hormon stress.

Kedewasaan seorang manusia dalam perkembangan dan perjalanan hidupnya sebenarnya bukan hanya dipengaruhi faktor keluarga saja, dalam hal ini orang tua di lingkungan rumah tangga. Akan tetapi, dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti lingkungan pendidikan formal, maupun lingkungan sosial. Oleh sebab itu, tentu keseimbangan IQ, EQ, dan SQ juga memperoleh kontribusi yang ikut menentukan kedewasaan seseorang untuk sampai pada usia emas. Jadi kalau dikatakan pembentukan pribadi untuk menemukan jati diri sampai pada usia emas hanya ditentukan oleh peran orang tua sangatlah tidak dapat berterima.

Sebagai contoh, dalam kehidupan bersosial di masyarakat, kita sering menemukan bahwa anak yang tanpa orang tua ternyata dapat berkembang mencari jati dirinya. Keberhasilan ternyata dapat berkembang maksimal karena anak tersebut harus memenuhi kebutuhan pribadi dengan bekal dan atau modal pengenalan, gejala kehendak , gejala perasaan, atau bahkan campuran dari ketiganya yang harus dilakukan sendiri. Sebaliknya, anak yang mendapat perhatian penuh dari orang tua terkadang menimbulkan rasa kurang percaya diri. Hal ini mungkin karena kasih sayang yang berlebihan dari orang tua. Semua kebutuhan anak dipenuhi orang tua akan membuat anak menjadi manja.

About these ads

6 Comments

Komentar ditutup.