ADA APA? (dalam Catatan Harianku)

Hari ini Selasa, 21 April 2009.

Aku masih sibuk menutup layar computer yang baru selesai dipakai praktik pada jam ke-2 dan ke-3. Hari ini adalah kelas IXD yang mendapat giliran untuk praktik browsing ke internet di ruang multimedia. Selesai mematikan 5 unit computer saat jam istirahat yang telah kulewati sekitar 10 menit, aku masih menyempatkan untuk mencicipi sepotong kue dan segelas kopi di ruang guru. Ternyata waktu ini berjalan begitu cepat sehingga waktu 15 menit istirahat telah berakhir dan bel masuk jam berikutnya telah memanggilku untuk kembali melaksanakan tugas. Aku buru-buru melangkah setengah berlari tatkala memang waktu itu aku agak terlambat tiba di kelas untuk menyampaikan materi karena kelas yang aku tuju jaraknya cukup jauh dari kantor guru. Seorang teman guru menyempatkan menyapaku dengan sedikit humor, “Kenapa seperti orang mau lari, mengejar apa?” Aku hanya tersenyum dan tak mengindahkan sapanya itu. Kembali aku melemparkan senyum kepada seorang teman guru yang sedang duduk di Pos Satpam, sambil memainkan sepotong lidi yang menahan beban dua butir pentol. Rupanya karena beliau sibuk memainkan lidahnya sambil mengeluarkan dan memasukkan bungkahan pentol yang terdapat di ujung lidi itu, membuat beliau tidak mengeluarkan kata-kata. Aku menambah kecepatan jalanku dan segera tiba di depan kelas. Setibanya di depan kelas, seperti biasa siswa berdiri dan menyambut kehadiran guru dan mengucapkan, “Selamat pagi!” kemudian mereka kembali duduk.
Kuletakkan tas kesayanganku di atas meja, dan aku mencoba mengambil posisi untuk duduk di kursi kebanggaanku di depan kelas. Sebelum sempat keluar ucapanku untuk memulai pelajaran, mendadak seorang anak berhitung, “Satu, dua, tiga….” dan mereka serempak berdiri seperti pasukan yang mendengar aba-aba dari komandannya. Ku piker ada apa gerangan? Belum terjawab pertanyaan dalam hatiku, kembali hitungan itu memberikan suatu perintah, “Satu, dua, tiga….” “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru….dst.” semua siswa kembali berdiri dan mulai melantunkan lagu lama yang katanya pernah mendapat isu protes karena mungkin dianggap sebagai suatu pelecehan. Ah, masa bodoh tuh lagu kan tentu menghibur kalau dinikmati, dan aku tetap bangga dengan profesiku serta lagu itu. Aku menikmati lagu itu, terpana, terlena, senag, kebingungan, cemas, bahagia, dan sedih bercampur baur dibenakku. Ternyata hampir seluruh siswa entah sadar atau tidak di pipi mereka mengalir air mata, dan bahkan ada beberapa siswa tidak mampu lagi melanjutkannya, hanya diam dan menangis. Entah apa maksudnya aku juga tidak mengerti. Setelah lagu itu berakhir, mereka kembali duduk dengan rapi, tersenyum, sedih, dan tampak haru.

Dalam hati aku kembali bertanya-tanya:
“Apakah hari ini hari ulang tahunku?”
“Apakah hari ini hari terakhir aku bersama mereka?”
“Apakah hari ini aku akan meninggalkan mereka?”
“Apakah sudah habis canda tawaku bersama mereka?”
“Ataukah penampilanku yang menyedihkan bagi mereka?”

Jawabku tanya dalam hati tanpa peduli dan menanyakan pada mereka semua, “Anak-anakku, apa gerangan yang membuat kalian begitu istimewa menyambutku hari ini?” lanjut benakku, “Kalian tunas muda, tunas bangsa, masa depan bangsa ada di pundak kalian! Cita-cita suci orang tuamu ingin kesuksesan.”
“Aku lalu cemas, ragu, haru, terpana, ada kesedihan dan kebahagiaan.”

Memang dalam minggu ini aku sudah mengenyam kehidupan dan menerima nikmat Tuhan telah 42 tahun, masalahnya; Apa hubungannya lagu “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” dengan usiaku yang sekarang ini? Aku baru mengabdi lebih kurang 20 tahun, dan belum seberapa dibanding pejuang atau pahlawan kita.

Anak-anakku, tinggal hitungan hari bahkan hitungan jam atau detik, ujian di depan mata.
Mungkin tidak banyak ilmu pengetahuan yang dapat aku berikan pada kalian.
Maafkan bapak yang lemah dan miskin ilmu ini.

Semoga kalian dapat memaafkan bapak yang serba kekurangan, dan aku hanya dapat mengiringi kalian dengan doa semoga kalian dapat sukses menempuh ujian dan memiliki ilmu yang bermanfaat terutama bagi dirimu sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

3 Comments

  1. Itu tandanya anak-anak mencintai & Bapak. Dan itu semua karena Bapak dengan penuh semangat & dedikasi yg tinggi dalam mendidik mereka. Selamat berjuang untuk mencetak generasi yg mumpuni!

Komentar ditutup.