Analisis Bahasa Lisan

SOSIOLINGISTIK

Analisis Bahasa Lisan

Lokasi    : Kantor Bank Pembangunan Kalteng Capem Ampah
Hari, Tanggal    : Senin, 2 April 2008
Waktu    : 14.00 – 15.00 WIB
Topik     : Pengambilan Gaji Pegawai
Partisipan / Penutur    :

Daftar 1.

No.

Petugas BPK

Suku

Bahasa Ibu

1

Kepala BPK

Dayak Banjar

Banjar

2

Petugas BPK I

Dayak Maanyan

Maanyan

3

Petugas BPK (Kasir I)

Dayak Maanyan

Maanyan

4

Petugas BPK (Kasir II)

Dayak Ngaju

Ngaju

5

Satpam BPK

Banjar

Banjar

Daftar 2.

No.

Pengunjung

Suku

Bahasa Ibu

Waktu

1

Pengunjung I

Dayak Maanyan

Maanyan

14.05

2

Pengunjung II

Dayak Ngaju

Ngaju

14.07

3

Pengunjung III

Dayak Banjar

Banjar

14.11

4

Pengunjung IV

Jawa

Jawa

14.14

5

Pengunjung V

Dayak Maanyan

Maanyan

14.18

6

Pengunjung VI

Dayak Banjar

Banjar

14.25

7

Pengunjung VII

Dayak Maanyan

Maanyan

14.35

8

Pengunjung VIII

Dayak Ngaju

Ngaju

14.35

9

Pengunjung IX

Dayak Banjar

Banjar

14.37

10

Pengunjung X

Dayak Banjar

Banjar

14.37

Data percakapan/komunikasi yang berhasil dicatat

Pengunjung I    : (masuk menghampiri petugas BPK I) “Hang awe slip?”

Petugas BPK I    : “Iru, tete Satpam.” (sambil menunjuk ke meja Satpam di dekat pintu).

Pengunjung I    : (menuju ke meja Satpam) “Awe slip pengambilan, aku ka’i laku.”

Satpam BPK    : “Ini nah, Bu.” (sambil menunjukkan kotak tempat slip pengambilan).

Pengunjung II    : (saat pengunjung I sedang mengisi slip, datang pengunjung II dan langsung mendekati pengunjung I) “Mamai sah gajeh?”

Pengunjung I    : “Hau, huan dinung.”

Pengunjung II    : (berjalan mendekati Kasir lalu bertanya) “Kaawe, naan perubahan sah gajeh? Gere mamai.”

Kasir I    : “Hau pada, aku pakarasa.”

Pengunjung III    : (masuk langsung menyerahkan buku rekening dan slip yang telah diisi kemudian duduk di kursi tunggu).

Pengunjung I dan II    : (bersama-sama menyerahkan rekening dan slip yang sudah diisi lalu duduk di kursi tunggu dekat pengunjung III)

Pengunjung III    : “Kaya apa habar gajih kita ni naik jua kah?”

Pengunjung II    : “Kada tahu pang balum malihat jua, kaina kita malihat di rikining.”

Pengunjung IV    : (masuk dan langsung menuju ke arah Kepala BPK yang sedang mengetik di komputer) “Permisi Pak, Kalo mau kirim uang gimana Pak?”

Kepala BPK    : “Mau kirim ke mana Pak?”

Pengunjung IV    : “Ke anak saya di Jawa Timur.”

Kepala BPK    : “Bapak isi dulu formulir ini, dan serahkan ke Kasir!”

Pengunjung V    : “Haut lawah hanyu?” (bertanya pada pengunjung I).

Pengunjung I    : “Sadang, iru rahat ngandrai antrian?”

Kasir I    : “Maslimah, Ibu Muslimah.”

Pengunjung III    : (berdiri dan berjalan menuju kasir) “Aku…aku…”

Kasir I    : “Bu Araiyani, Pak Kardi…”

Pengunjung I     : “Nah, giliran ta rueh iru…haut na hirau.”

Pengunjung II    : “Hiah, sadang pada lawah haut ta rueh ngandrai.”

Pengunjung V    : (mendekati pengunjung III dan bertanya) “Kayapa Bu, ada batambah lih?”

Pengunjung III    : “Tagasnya pina batambah pang saldonya ni.”

Pengunjung IV    : “Nyaman pang pegawai naik gajinya.”

Pengunjung III    : “Sadikit ja Pa’ai.”

Pengunjung IV    : “Biar sedikit tapi naik kalo, kalau kami cuman naik pohon karetnya.”

Kasir II    : “Pak Marjono.”

Pengunjung IV    : “Ya, saya…” (berdiri mendekati kasir II).

Pengunjung II    : “Tapi dapat dari nyadap karet tu lebih banyak duitnya, gatah lagi larang.”

Pengunjung IV    : “Ya, itu kalo hari ndak hujan, coba kalo hujan cuman makan yang ada, kalau pegawai kan hujan tidak hujan tetap ai di bayar gajinya, saya sudah, yo permisi duluan semuanya.”

Pengunjung VI    : (tiba saat itu dan mendengar pembicaraan mereka) “Naik lih gaji kita.”

Pengunjung III    : “Lihati ja saurang kena mun sudah maambil, aku kada tapi pitih berapa naiknya, aku badahulu ai bulik handak manjanguk sapupu nang garing di puskesmas.” (bersamaan dengan itu masuk dua orang, pengunjung VII dan VIII)

Pengunjung VII    : “U…, parahatan takumpul orangnya.”

Pengunjung VIII    : “Hiih…, banyak antriannya, ikau sudahkah ngisi slip lah?”

Pengunjung VII    : “Huan, situ pang sudahleh, mun baluman balakas kita maambil, takut tutup?” (menyusul masuk di belakang mereka dua orang pengunjung IX dan X)

Pengunjung IX    : “Tutup kah sudah?”

Petugas BPK I    : “Baluman, satumat lagi, ya mahadangi buhan ikam.” (sambil tertawa).

Pengunjung X    : “Han, kada wani buhannya menutup mun kita balum kabagian.”

Petugas BPK I    : “Maka satumat lagi lampu mati pulang, kaya bulan sumalam.”

Pengunjung IX    : “Jangan dahulu ah, kami lagi kahabisan baras di rumah.”

 

Hasil Analisis

 

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, yaitu penggunaan bahasa di masyarakat (di Bank Pembangunan Kalteng Capem Ampah) terlihat kecendrungan penggunaan bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa daerah. Kecendrungan tersebut timbul karena pengaruh latar belakang sosial budaya dan asal usul penutur.

Contohnya pengunjung IV yang berasal dari suku Jawa dalam berkomunikasi cenderung terpengaruh dengan bahasa Banjar, apalagi kalau berbicara dengan penutur bahasa Banjar. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan sekitarnya yang mayoritas berbahasa Banjar. Di Kecamatan Dusun Tengah (Ampah), bahasa pergaulan antarsuku didominasi oleh bahasa Banjar. Ini terjadi karena baik penutur lokal (Ma’anyan) maupun pendatang (Jawa, Batak, Sunda) sebagian besar mampu menguasai dan bertutur dalam bahasa Banjar. Ini terbukti dalam dialog yang terjadi di Bank Pembangunan Kalteng Capem Ampah tempat diadakan pengamatan.

Walaupun tidak semua mengerti dan fasih berbahasa Banjar, tetapi komunikasi antara sesama pengunjung dapat berjalan lancar karena sesuai dengan azas sosiolinguistik (hubungan bahasa dengan sosial budaya) yang bersifat komunikatif di mana komunikasi terjalin ‘asal nyambung’ yang penting orang mengerti apa yang dibicarakan.

Kalau ditinjau dari tingkat kesadaran berbahasa, terutama berbahasa Indonesia, maka dari dialog-dialog yang terjadi di Bank Pembangunan Kalteng Capem Ampah itu dapat disimpulkan tingkat kesadaran berbahasa Indonesia para penutur masih rendah. Terbukti dengan banyaknya komunikasi yang dipengaruhi oleh bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Banjar.

 

4 Comments

  1. Analisisnya bagus sekali, jadi ingat waktu kuliah. Bahasa memang lebih tepat ditinjau dari sosiolinguistik karena tidak menghakimi salah atau betul tapi yang penting komunikatif, saling memahami. Blog yang baik dan bermanfaat dari juther.wordpress.com

Komentar ditutup.